Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Mei 2018

Ikuti Jejak Kemenag, MUI juga akan Rilis Standarisasi Mubaligh

Setelah Kementerian Agama (Kemenag) merilis 200 nama mubalig yang terekomendasi, kini Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana membikin standardisasi mubalig.

"Kalau kami, kami akan beri standar," kata Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Cholil Nafis kepada detikcom, Selasa (22/5/2018).

Standardisasi itu berupa penilaian terhadap para mubalig yang mendaftar. Penilaian dilakukan berdasarkan kualifikasi pendidikan, karya tulis, rekam jejak di masyarakat, rekam jejak digital, dan konsistensi pengamalan ilmu. Ini akan mirip seperti cek administratif.


"Seperti orang seleksi administrasi. Kan harus diuji," kata Cholil.

Nantinya, para mubalig yang telah dicek kualitasnya itu bakal dikelompokkan berdasarkan kompetensi dan levelnya. Ada yang punya kompetensi tingkat provinsi, nasional, dan internasional. Syarat mubalig berkualifikasi internasional adalah menguasai isu-isu internasional dan minimal bisa berbahasa Inggris. Dengan kategorisasi itu, nantinya umat Islam bisa memilih mubalig sesuai dengan kualifikasi yang diinginkan atau dibutuhkan.

"Nanti ada semacam piagam (untuk mubalig yang telah distandardisasi MUI)," kata dia.

Sehubungan dengan daftar 200 mubalig rilisan Kementerian Agama (Kemenag), Cholil menilai Kemenag tak punya hak melakukan standardisasi. Alasannya, Kemenag bukanlah kementerian yang hanya mengurusi satu agama, tapi juga semua agama.

"Kemenag tidak punya hak melakukan standardisasi orang-orang minta yang buat MUI saja, bukan Kemenag. Karena kalau Kemenag buat, maka bukan hanya Islam (yang diurusi Kemenag)," kata Cholil.

Soal biaya yang dikenakan kepada para mubalig untuk mendapatkan piagam standardisasi MUI, Cholil mengatakan nantinya hal itu tergantung kondisi anggaran MUI. Bisa jadi nanti para mubalig dikenai biaya standardisasi.

"Kalau bayaran itu ya, kalau kita punya anggaran ya nggak perlu. Kalau memang nanti perlu dilakukan uji, ya bayar. Nanti tergantung bagaimana kondisi di lapangan," kata dia.

Soal perbedaan standardisasi mubalig ini dengan proses mendapatkan sertifikat halal, meski Cholil tak mau menyebut standardisasi ini sebagai sertifikasi mubalig, ada analogi yang mirip di antara keduanya.

"Kalau ingin menjadi mubalig yang direkomendasikan MUI, maka silakan mengajukan standardisasi. Kalau mengajukan, maka kita beri standardisasi. Kalau nggak mengajukan, ya nggak usah dikasih," tuturnya.

Bukan berarti yang tidak mengajukan standardisasi ke MUI adalah mubalig yang tidak baik. Ini sama seperti makanan bersertifikat halal, bukan berarti makanan yang tidak bersertifikat halal dari MUI adalah haram.

"Yang tidak mendapat sertifikat halal bukan berarti haram, tapi dia hanya tidak mengajukan," kata Cholil.

Rencana ini bukanlah wacana mengawang-awang. MUI segera mengontak bagian dakwah tiap ormas Islam untuk mengeksekusi ide ini.

"Kami sudah mengontak bagian dakwah masing-masing, dalam waktu dekat sehari atau dua hari, kita akan rapat soal standardisasi mubalig," kata Cholil.

(dnu/dnu)

Pernyataan Monohok Istri Gus Dur soal Ancaman Nyata Keberagaman Indonesia

Istri presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Shinta Nuriyah menegaskan Indonesia adalah negara majemuk yang tidak dimonopoli oleh satu keyakinan atau golongan saja. Pandangan itu dia sampaikan, sebagai reaksi atas praktik radikalisme yang bertujuan menginginkan penyeragaman.

"Aksi terorisme yang terjadi baru-baru ini menjadi ancaman nyata bagi keberagaman di Indonesia," kata Shinta di Pasar Segamas Kabupaten Purbalingga, Selasa (22/5) saat sahur bersama antara Pemkab Purbalingga dan warga masyarakat.


Menurut Shinta, Indonesia mempunyai harta yang tidak bisa disamai oleh bangsa lain yakni keberagaman. Sebab itu, menjaga kondusifitas di tengah perbedaan adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap warga negara.

"Warga Purbalingga harus menjadi contoh keberagaman yang ada di Indonesia," katanya.

Bulan Ramadan ini, kata Shinta, membawa pesan ajaran kesabaran, kejujuran, keadilan dan tolong menolong. Ia berharap pesan-pesan tersebut bisa dipraktikkan jadi sikap kehidupan berbangsa agar tercipta harmoni di masyarakat.

Dalam acara sahur bersama tersebut, Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi menyampaikan bahwa warga di Purbalingga tetap kondusif meskipun baru-baru ini Indonesia berduka dengan serangkaian aksi teror. Tiwi mengatakan warga Purbalingga akan tetap solid menjaga NKRI dengan kebhinekaan serta tetap mengedepankan toleransi.

"Warga Purbalingga tetap kondusif dan tidak terpengaruh dengan isu destruktif yang berhembus," papar Tiwi. [bal]
Rabu, 16 Mei 2018

Ekonom Indef Bongkar Komparasi Kebijakan BBM Jokowi dan SBY, Hasilnya Bikin Sakit Kepala

Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi menyinggung pengelolaan bahan bakar minyak (BBM) di era pemerintahan sebelumnya. Jokowi mempertanyakan pemerintahan sebelumnyan yang tak mampu mengimplementasikan BBM satu harga di seluruh Indonesia dengan anggaran subsidi BBM mencapai Rp 340 triliun.

Jokowi tak menyebut siapa presiden yang dimaksud. Namun, komentar Jokowi justru menimbulkan reaksi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengatakan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) Jokowi dan SBY sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan. Di era Jokowi, subsidi energi dipangkas 70 persen lebih selama tiga tahun pertama.

Akan tetapi, kebijakan itu hanya memindahkan beban anggaran ke PT Pertamina. "Akibatnya potential loss (potensi kerugian) Pertamina cukup besar," kata Bhima saat dihubungi Tempo, Rabu, 16 Mei 2018.

Menurut Bhima, potensi kerugian Pertamina mencapai Rp 18,9 triliun per tahun akibat BBM penugasan dan BBM satu harga. Alhasil, Pertamina harus mengurangi 50 persen pasokan premium di Jawa, Madura, dan Bali.

Potensi kerugian itu berpengaruh pada penurunan jumlah wilayah kerja (WK) eksplorasi. Bila hal ini terus berlanjut, Bhima memperkirakan ancaman krisis minyak karena produksi turun bisa terjadi 10-15 tahun lagi.

Sementara saat kepemimpinan SBY, subsidi BBM tergolong besar tapi tidak tepat sasaran. Padahal, sebagian anggaran subsidi itu bisa digunakan untuk kegiatan produktif seperti pembangunan infrastruktur. "Kelebihan Jokowi sebagian subsidi dipangkas untuk infrastruktur," ujar Bhima.

Walau begitu, SBY mampu menjaga daya beli masyarakat. Buktinya, pertumbuhan ekonomi di pemerintahan SBY sebesar enam persen sempat ditopang konsumsi rumah tangga yang menguat. te

Begini Nasib Admin @jokowi Usai Posting Cuitan JKT48 'Senbatsu Uza'

Presiden Joko Widodo sempat bikin heboh Twitter gara-gara cuitannya tentang JKT48. Pihak Istana menjelaskan, cuitan tersebut ditulis oleh admin dan kini telah dibebastugaskan.

"Yang bersangkutan kini sudah dibebastugaskan," ujar Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Rabu (16/5/2018).


Akun Twitter Presiden pada pukul 15:24 WIB mengunggah cuitan singkat namun segera dihapus tak lama setelah diunggah.

"Wuooohh mantab! Jadi teringat deg2annya di momen Senbatsu Uza pekan lalu," tulis akun @Jokowi, Rabu (16/5/2018).


Langkah-langkah pengamanan dan penanganan tambahan secara internal telah dilakukan untuk mencegah hal yang sama kembali terulang.

Netizen pun sempat bereaksi melihat postingan itu sebelum dihapus. Begini reaksinya:

(rou/rou)
Senin, 14 Mei 2018

Perbanyak tampungan air, Kementerian PUPR targetkan bangun 1.088 embung

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan pembangunan 1.088 embung atau situ dan bangunan penampung air lainnya dalam kurun waktu 2015-2019. Embung dan bangunan penampung air bermanfaat untuk konservasi air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku, sumber air bagi ternak maupun pengairan sawah tadah hujan pada saat musim kemarau.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan penyediaan sarana dan prasarana air untuk ketahanan air dan kedaulatan pangan. Dimensi embung yang dibangun bervariasi dengan kapasitas tampung antara 1.000 hingga 500.000 m3 dan kedalaman di bawah 15 meter.


Sejak tahun 2015 hingga 2017, Kementerian PUPR telah membangun 847 embung di berbagai wilayah di Indonesia dengan anggaran sebesar Rp 2,44 triliun. Untuk tahun 2018 dialokasikan anggaran sebesar Rp 658,47 miliar untuk membangun tambahan 108 embung dan dilanjutkan sebanyak 133 embung pada tahun 2019.

Presiden Joko Widodo memberikan perhatian untuk menambah jumlah embung di Indonesia dengan dikeluarkannya Inpres No 1 tahun 2018 tentang Percepatan Penyediaan Embung dan Bangunan Penampung Air Lainnya di Desa. Dalam Inpres tersebut Menteri PUPR ditugaskan untuk menetapkan pedoman perencanaan, spesifikasi teknis, dan perhitungan standar harga satuan untuk pembangunannya.

Di beberapa daerah masih terdapat masyarakat yang masih kesulitan memperoleh air bersih. Realitas seperti ini menjadi perhatian Kementerian PUPR agar selalu berupaya menyediakan infrastruktur salah satunya melalui pembangunan embung.

Pada awal tahun 2018 silam, Presiden Joko Widodo berkesempatan meresmikan lima embung di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT. Lima embung yang dibangun menampung air sebanyak 331 ribu m3 dan bermanfaat menyuplai air baku bagi 1.350 orang warga yang masih mengalami kesulitan air pada musim kemarau. Selain itu embung yang dibangun juga menjadi sumber air bagi ternak dan irigasi pertanian sehingga meningkatkan produktivitas masyarakat.

Selain membangun, Kementerian PUPR juga terus melakukan upaya perlindungan embung yang ada. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2017 dalam rangka perlindungan embung, sebanyak empat situ/embung telah disertifikasi dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/BPN. Keempat situ tersebut yakni Situ Cogreg seluas 4,85 hektar di Kabupaten Bogor, Situ Pagam seluas 5,8 hektar di Kabupaten Bogor, Situ Tlajung Udik seluas 5,63 hektar di Kabupaten Bogor, dan Situ Rawalumbu seluas 2,23 hektar di Kota Bekasi. [hhw] m